Tampilkan postingan dengan label art in bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label art in bali. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Januari 2009

Pementasan Drama Tari Sri Tanjung


(cerita sritanjung adalah asal mula kota banyuwangi, kota kelahiranku,, hehehe)
Mulanya adalah sebuah keprihatinan Kadek Suardana terhadap miskinnya inovasi pada seni pertunjukan di Bali. Kegalauan tersebut lalu bergulir dalam diskusi demi diskusi antara lain dengan A.A.N. Puspayoga, seorang pecinta seni pertunjukan Bali asal Puri Satria – Denpasar, maka lahirlah drama-tari bertajuk “Sri Tanjung – The Scent of Innocence” ini.

Di bawah pimpinan Kadek Suardana, cerita Sri Tanjung dihidupkan kembali lewat sebuah proses kreatif yang sangat intens. Proses penggarapan diawali dengan penelitian, interpretasi naratif, penulisan skrip, lalu penggarapan komposisi musik dan tembang. Semua itu dimaksudkan untuk membuat padu-padan yang harmonis yang menjembatani masa lalu dengan masa kini.

Dalam garapan ini seniman dari berbagai generasi dan berbagai bidang seni pertunjukan bergabung untuk melakukan eksplorasi dan persilangan idiom-idiom tradisi. Hasilnya: sebuah pertunjukan yang memancarkan ekpresi artistik bernuansa kontemporer yang menyatu secara estetis. Sebuah karya alternatif yang merevitalisasi kesenian tradisi dan mudah diapresiasi oleh masyarakat luas.

Sepintas Tentang Cerita Sri Tanjung

Cerita Sri Tanjung adalah karya sastra yang ditulis di Banyuwangi pada abad ke 17. Saat itu Banyuwangi masih bagian dari kerajaan Blambangan, kerajaan terakhir di Jawa Timur. Ahli literatur Jawa asal Belanda, Dr. Theodoor Gautier Thomas Pigeaud, menempatkan cerita ini dalam kelompok karya-karya sastra yang diberi judul ‘Original Old Javanese and Javanese-Balinese exorcist tales and related literature in a bellestric form’. Yang dimaksud ‘Javanese-Balinese’ oleh Pigeaud adalah karya-karya sastra yang mengunakan bahasa jawa-tengahan, yang sumbernya berada pada kegiatan sastra di kerajaan Jawa Timur sampai Majapahit, dan kemudian berkembang di Bali (dan wilayah kekuasaan lainnya) semasa Watu Renggong memimpin kerajaannya di Gelgel. Karya ini satu kelompok dengan karya sastra macam Calon Arang, Sudamala, Wargasari, Nawa Ruci, Subrata, dan Sang Satyawan.

Cerita Sri Tanjung diperkirakan telah lahir di Jawa Timur sekitar awal abad ke 13, dan kemudian ditransmisi secara lisan. Dalam proses itu, cerita ini terintegrasasi ke dalam kebudayaan Hindu-Jawa dengan menempatkan beberapa tokoh utama dari cerita ini sebagai keturunan dari Nakula dan Sahadewa. Misalnya pada relief di Batur Pendopo Candi Panataran-Blitar, di luar Sri Tanjung digambarkan pula tokoh bernama Sang Setyawan. Demikian pula pada Batur Candi Surawana, Para-Kediri, terdapat tokoh bernama Bubuk Sah-Gagang Aking. Dalam relief-relief tersebut terbabar kisah yang intinya mengenai pencarian kesempurnaan hidup.

Satu hal penting dalam kisah Sri Tanjung, terdapat unsur ruwatan yang dalam bahasa Bali dikenal dengan panglukatan atau panyupatan atau pabayuhan, yaitu sebuah ritual yang diselenggarakan untuk melebur hal-hal negatif dalam diri sehingga diri ini menjadi lebih kuat dan suci. Unsur panglukatan ini juga menjadi tema utama di beberapa tempat pemujaan lain seperti Candi Tigowangi (1358) di Plemahan, Kediri; Candi Sukuh (1439), serta Candi Ceto di gunung Lawu, Jawa Tengah. Pada ketiga candi tersebut terdapat relief-relief cerita Sudamala, yaitu sebuah cerita yang memiliki hubungan erat dengan cerita Sri Tanjung, yang hingga sekarang masih diusung oleh masyarkat Bali saat pelaksanaan upacara panglukatan.
Zaman sekarang, cerita Sri Tanjung masih hidup di tengah masyarakat di sekitar Banyuwangi sebagai sebuah dogeng yang menceritakan asal muasal nama ‘Banyuwangi’, yang berarti sungai yang harum.

Di Bali, cerita Sri Tanjung pernah populer sebagai lakon dalam drama-tari Arja pada masa kejayaannya sekitar tahun 1970-an. Pada tahun 1980-an pun, di beberapa daerah di Bali, cerita ini masih banyak diangkat sebagai lakon pewayangan untuk upacara panglukatan.
Sekarang, cerita ini sudah hampir terlupakan oleh masyarakat Bali. Bahkan, ada selentingan bahwa di sebuah desa di Bali, kisah Sri Tanjung ini dilarang untuk diceritakan. Entah apa alasannya. Yang pasti, kita hanya bisa berimajinasi tentang kekuatan yang tertkandung dalam cerita ini….

Sinopsis Pementasan Sri Tanjung

Ini adalah kisah seorang perempuan bernama Sri Tanjung yang diambil dari Kidung Sri Tanjung. Kisah ini menggambarkan percintaan yang hangat dan mesra antara Sri Tanjung dan Sida Paksa, patih kerajaan Sinduraja yang tampan dan perkasa. Namun, karena hasutan Prabu Sulakrama, raja Sinduraja, Sida Paksa menjadi hilang kesadaran dan buta terhadap realitas kehidupan. Laki-laki perkasa itu tunduk dan patuh pada titah sang raja hingga tega membunuh Sri Tanjung, istri tercintanya.

Sebuah keajaiban terjadi saat keris Sida Paksa menghujam tubuh Sri Tanjung. Darah yang membuncah dari luka Sri Tanjung menebarkan bau harum semerbak, pertanda bahwa dirinya tak bersalah. Namun apa daya, ibarat nasi telah menjadi bubur, Sida Paksa tak sanggup menarik kembali apa yang telah diperbuatnya terhadap Sri Tanjung. Hanya penyesalan yang menggelora di relung jiwanya. Beruntung Dewi Durga jatuh iba pada Sri Tanjung yang berhati bersih itu. Sang Dewi menghidupkan perempuan itu kembali…

Drama-tari Sri Tanjung: The Scent of Innocence mengambarkan nasib tiga tokoh di atas dalam sebuah drama berbahasa kawi dipadukan dengan komposisi tari dan tembang - tembang Bali yang dieksplorasi sesuai dengan karakter masing-masing adegan. Di dalam drama tari ini ditampilkan juga beberapa bait nukilan karya-karya sastra dalam bahasa jawa-tengahan seperti Kidung Kaki Tua dan Kidung Jayendria. Kidung-kidung tersebut dikemas khusus untuk mengillustrasikan suasana hati para tokoh dalam cerita ini. Pada puncak pertunjukan, penonton akan menyaksikan Sri Tanjung, yang diberi anugerah alam oleh Dewi Durga, menghapus dosa suaminya dan memberi kekuatan untuk menjatuhkan Prabu Sulakrama, yang dalam pertunjukan adalah simbol kekuata yang menentang hukum alam.

Jadwal Pementasan Sri Tanjung

Sebagai pementasan pembuka, drama-tari ini akan digelar di dua kota yakni:
Denpasar
Gedung Ksirarnawa, Taman Werdhi Budaya
27 - 28 Februari 2009

Jakarta
Gedung Kesenian Jakarta
Jalan Gedung Kesenian No1.
Pasar Baru, Jakarta Pusat
6-7 Maret 2009


info selengkapnya ada di:
http://sritanjungarti.blogspot.com/
www.artifoundation.org

BACA SELANJUTNYA »»

Senin, 24 September 2007

Dance & Drama

Dance & Drama

Dance is the main art form of Balinese culture and is performed at main temple festivals and ceremonies, especially for the cycle of life and death. Taught and kept in secrecy in villages, halls and palaces, the dances that tourists witness in hotels and specially constructed stages are merely a fraction of the dance scene, although most of the dancers come from village groups.

The Kecak Dance

Its name is derived from the sound "cak", pronounced "chok", which is chanted in complex interlocking patterns that are like the rhythmic patterns played on the gamelan. The modern form of kecak originated from Gianyar village of Bedulu in the 1930s as a result commissioned by the German expatriate artist, Walter Spies. He wished to create a performance that could be enjoyed by a small coterie of expatriate artists like himself, as well as friends and guests to the island.

The modern performance of Kecak is a sensational sight to behold. Hundreds of barechested men sit in a circle with a flickering single oil lamp in the middle. "Cak - Cak - Cak", the chant begins and the men start dancing and swaying to the rhythmic reverberation of their own voices. Hands raised to the sky, bodies shaking in unison, the chorus performs the highly structured piece of vocal music for about an hour. This unique dance holds the title of being the most popular dance in Bali.

The Barong Dance

"Lord of the forest" and magical protector of Balinese villages, the Barong is a mythical, shaggy half-dog, half-lion creature, with a long mane, fantastic fangs, and bulging eyes. It is propelled by two men who maneuver the costume with whimsical and mischievous movements to express its fun-loving nature. The Barong's opponent is Rangda, the evil witch who rules over the spirits of Darkness. The Barong dance epitomizes the eternal struggle between good and evil. The fight of Barong and Rangda is also a topic of traditional narratives performed in temples and takes various forms. The Barong will snap its jaws at the gamelan, prance around a bit, and enjoy the acclaim of its supporters - a group of kris-wielding men. Then ferocious Rangda will then appear lolling her long tongue, baring her threatening fangs, her neck draped with human entrails...not a pretty sight.

The duel begins. Each opponent tries to overcome the other with magical powers but when things do not look too good for the Barong, supporters will lunge at Rangda with krises to weaken or stall her. In retaliation, Rangda would put them all into a trance with her mystical powers and make them stab themselves with their weapons. Fortunately, the Barong possesses magic that is strong enough to cast a spell on the krises from harming the men. This part would be the highlight of the dance; the gamelan rings madly and intensely as the men rush back and forth waving their krises in a frenzy, sometimes even rolling on the ground in a desperate attempt to stab themselves. Often, there seems to be a plot to terrify the audience in the front row! Eventually, Rangda will retire, defeated. And once again, good will reign over evil.

Legong Keraton

The most graceful of Balinese dances, this is the epitome of classical Balinese female dancing. A legong, as the dancer is known, is often a young girl of eight or nine years, rarely older than her early teens. It was first created in the 18th Century and is usually the first dance to be taught to beginners. There are many forms of Legong, the most frequently performed dance being the Legong Keraton or Legong of the Palace.

The story of the Legong is very stylized and symbolic and one should know the story before actually watching the performance. The Legong involves three dancers - two legongs and their 'attendant', the condong. The legongs are identically costumed in gold brocade, which is bound so tightly that it is a mystery such agitated and rapid moves could be made. With elaborately made-up faces, plucked eyebrows that are boldly repainted, and hair decorated with frangipanis, the dancers relate the story with captivating movements.

A king takes the maiden Rangkesari captive. When her brother comes to release her, Rangkesari begs the king to free her rather than go to war. The king refuses and chances upon a bird carrying ill omens on his way to battle. However, he ignores the bird, meets Rangkesari's brother, and was thus killed in the fight.

The roles of the dancers may change according to the narration. However, the dance usually begins with the king's preparations for battle and ends with the bird's appearance.

Baris
A male equivalent of the Legong, Baris is a warrior's dance. Executed with energetic and warlike martial spirit, the Baris dancer has to convey the thoughts and emotions of a warrior preparing for action as well as confronting an enemy in battle. This dance is performed solo and requires great energy, spirit and skill. The warrior's changing moods have to be displayed through facial expressions and movements; he should be able to depict chivalry, pride, anger, prowess, and a little regret. Baris is said to be one of the most complex of all Balinese dances.

BACA SELANJUTNYA »»